Saat kita menjadi orang yang \"aktif\" berSosial Media

Saat kita menjadi orang yang "aktif" berSosial Media

Saat kita menjadi orang yang "aktif" berSosial Media
Ilustrasi terpaku oleh gadget (Gemini)
Dibaca normal sekitar 7 menit
oleh Darwadi


Pernah merasa tidak bisa lepas dari HP? Dalam ilmu komunikasi, ada teori bernama Uses and Gratification (U&G Therory) yang inti dari teorinya adalah kita bukan penonton pasif. Kita adalah "bos" yang memilih media mana yang mau dikonsumsi sesuai kebutuhan psikologis kita, entah itu untuk mengusir bosan, cari teman, curhat, atau sekadar cari hiburan.
Ilustrasi Uses and Gratification Theory (U&G Theory) - Gemini
Ilustrasi Uses and Gratification Theory (U&G Theory) - Gemini
Hal-hal ini yang membuat kenapa kita bisa tidak bisa lepas dari HP

1. HP hari ini = "Mini Komputer" dalam Genggaman
Di Indonesia, jumlah HP bahkan lebih banyak dari jumlah penduduknya. Karena budaya kita yang sangat senang bersosialisasi (guyub), kebiasaan kumpul-kumpul ini akhirnya pindah ke ranah digital. Media sosial bukan lagi sekadar aplikasi, tapi sudah jadi "ruang tamu" baru buat kita.

2. Tren, FOMO, dan Setiran Algoritma
Kenapa tiba-tiba semua orang hobi lari atau main padel? apakah karena faktor FOMO (Fear of Missing Out) atau Kita takut dianggap tidak relevan kalau tidak ikut tren? apakah faktor Efek Algoritma sosial media, padahal bgitu kita sekali klik konten olahraga, algoritma akan terus menyuguhkan hal serupa, bahasa canggihnya Filter Bubble. Overdosis konten yang pada akhirnya kita jadi "kecanduan" pada topik tersebut. Keputusan kita buat ikut lari bukan lagi cuma soal kesehatan, tapi soal pembuktian diri di mata sosial.

3. Jebakan "Zombie Scrolling"
Pernah nonton The Social Dilemma? Di sana digambarkan bagaimana kita sering jadi "boneka" algoritma. Fenomena ini disebut zombie scrolling, kondisi di mana kita mengusap layar HP berjam-jam tanpa sadar dan tanpa tujuan yang jelas. Niatnya cuma liat jam, eh, berakhir di Sosmed selama dua jam.

4. Beda Lapak, Beda Gaya (Media Ecology)
Setiap media sosial punya "kepribadian" sendiri yang memengaruhi cara kita bersikap, seperti TikTok tempatnya seru-seruan dan joget atau Instagram tempatnya pamer estetika dan dunia yang terlihat sempurna. Ini menciptakan "ruang" baru di pikiran kita tentang bagaimana dunia seharusnya terlihat.

5. Hubungan Satu Arah (Parasocial Relationship)
Pernah merasa sangat kenal dengan seorang influencer atau selebriti padahal mereka tidak kenal kamu, at all? Itu namanya Parasocial Relationship. Kita merasa ditemani dan divalidasi oleh mereka. Namun, kalau berlebihan, ini bisa berbahayanseperti kasus Amato yang rela melakukan tindak kriminal demi "pacar online"-nya.

6. Apakah Kita Benar-Benar Berkuasa atas diri kita saat pegang HP?
Meskipun teori ini bilang kita adalah pemilih yang aktif dan rasional, kenyataannya sekarang agak beda. Dengan adanya algoritma yang sangat pintar, sulit untuk bilang kita benar-benar "memilih". Seringkali, justru algoritma yang mendikte apa yang harus kita suka, bukan sebaliknya.

We are Social

Ilustrasi We are Social - Gemini
Ilustrasi We are Social - Gemini
Dari laporan We Are Social, secara perhitungan singkat, jumlah handphone di Indonesia 25% lebih banyak daripada populasi manusianya, dan secara fungsi di era saat ini, fungsi handphone ibarat “mini komputer” yang bisa melakukan tugas apapun khususnya yang berbasis teks.

Dengan fakta tersebut dan ditambah dengan budaya “kekeluargaan” yang sebelumnya sudah terbentuk secara offline menjadikan perilaku bersosialisasi orang Indonesia berubah dari offline ke online, dalam hal ini termasuk bersosial media.

Berangkat dari sinilah penggunaan handphone termasuk bersosialisasi melalui sosial media menjadi hal yang sangat normal. Hal ini senada dari we are social 2025 pada grafik sosial media, sosial media menjadi urutan pertama sebagai salah satu fungsi penggunaan handphone di indonesia. Mengacu pada hal tersebut dan jumlah pengguna yang besar, perilaku manusia indonesia dalam bersosial media menjadi mudah terlihat.

Melalui uses dan gratification teori juga menjawab tentang bagaimana simbol-simbol sosial terbentuk dan menjadikan “kiblat baru” manusia terhadap trend tertentu. Sebagai contoh bagaimana trend olahraga lari atau padel di Indonesia bisa berkembang dan menjadi bagian dari gaya hidup orang di perkotaan dan ditambah lagi dengan perilaku pengguna media sosial yang terpapar fenomena fear of missing out (FOMO) terhadap tren olahraga lari atau padel.

Sosial Media dan Kita

Ilustrasi sosial media dan kita - Gemini
Ilustrasi sosial media dan kita - Gemini
Pada sosial media, konten yang pertama kali dipilih pengguna akan menjadi acuan algoritma untuk menampilkan konten serupa secara berulang. Hal ini senada dengan (Amelia Tri Andini & Yahfizham, 2023, p. 288), yang menyatakan bahwa, Algoritma media sosial memberikan rekomendasi konten dengan cara mencocokkan minat pengguna dengan jenis konten yang diberikan.

Akibatnya, pengguna akan terus terekspos dan bisa “kelebihan dosis” pada topik yang diminati hingga terbentuk dorongan psikologis baru untuk menyesuaikan diri dengan tren yang sedang berkembang. Pada titik ini, keputusan seseorang untuk mengikuti tren olahraga lari atau padel bukan sekadar persoalan kebugaran fisik, melainkan juga manifestasi dari interaksi antara id, ego, dan superego dalam konteks sosial modern.

Selain itu, salah satu contoh pendukung yang menunjukan “kelebihan dosis” pada U&G Theory tergambar pada film The Social Dilemma, saat manusia sudah sepenuhnya memilih, memilah dan mengkonsumsi informasi pada sosial media dan senada apa yang Griffin sebutkan dengan typologynya, manusia akan merelakan waktunya berjam-jam untuk mengkonsumsi informasi pada sosial media, hal ini pada The Social Dillema digambarkan manusia sebagai boneka yang dikendalikan oleh algoritma sebagai dalang dibelakang layar dari sosial media. Hingga saat ini muncul fenomena baru yaitu zombie scrolling (membuka-buka media sosial tanpa sadar dan tanpa tujuan yang jelas), (ipb.ac.id, 2025).

The Medium Is The Message

Ilustrasi The Medium is The Message - Gemini
Ilustrasi The Medium is The Message - Gemini
Selain itu, menurut teori media ecology, McLuhan melalui statement, The Medium Is The Message, masing-masing sosial media memiliki karakteristik yang membentuk “kesadaran” baru penggunannya, contoh, TikTok dengan hiburan joget-joget singkatnya, Instagram dengan visual estetiknya, dan melalui pendekatan ini manusia sebagai contributor dan receiver informasi menciptakan “ruang” tersendiri dalam pikirannya.

Parasocial Relationship

Ilustrasi Parasocial Relationship - Gemini
Ilustrasi Parasocial Relationship - Gemini
Bagi contributor informasi mereka bisa menciptakan kesan bahwa dunia itu ideal dan penuh harapan, atau sebaliknya, dunia yang penuh ketakutan dan cobaan, atau bisa juga diantaranya, tergantung agenda apa yang mau disetting, dan saat terjadi perilaku “pengkultusan” pada figure atau sosok yang muncul di media, hal ini disebut Parasocial Relationship (PSR), kondisi saat seseorang membangun hubungan emosional satu arah dengan figur media, seolah-olah mereka berteman, sebagai salah satu contoh yang terjadi pada Amato yang menghabiskan uang dan membunuh orang tua dan kakaknya untuk “pacar” onlinenya yang berasal dari Bulgaria (internasional.kompas.com, 2019).

Hal ini terjadi karena efek PSR pada Amato karena dia merasakan sensasi merasa ditemani, mengurangi kesepian dia, mendapatkan inspirasi, melarikan diri dari tekanan, dan mendapatkan validasi identitas dari “pacar” nya di Bulgaria.

Well, pada intinya, bijak menggunakan sosial media. Jangan terlalu lama dan jangan terlalu percaya dengan apa yang ada di sosial media. Dulu orang bisa juga kok bertahan tanpa gadget dan wifi
Ilustrasi kumpul-kumpul jaman dulu tanpa gadget
Ilustrasi kumpul-kumpul jaman dulu tanpa gadget


Referensi
amelia Tri Andini & Yahfizham. (2023). Analisis Algoritma Pemrograman Dalam Media Sosial Terhadap Pola Konsumsi Konten. Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa Dan Matematika, 2(1), 286–296. https://doi.org/10.61132/arjuna.v2i1.526

Internasional.Kompas.Com (2019). Pria Ini Bunuh Orangtua Dan Kakaknya Setelah Dilarang Buka Situs Porno. https://internasional.kompas.com/read/2019/01/30/21073611/pria-ini-bunuh-orangtua-dan-kakaknya-setelah-dilarang-buka-situs-porno?page=all.

Ipb.Ac.Id (2025). Psikolog Ipb University: Kebiasaan Doomscrolling Dan Zombiescrolling Sebabkan Brain Rot Dan Kelelahan Mental. https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/03/psikolog-ipb-university-kebiasaan-doomscrolling-dan-zombiescrolling-sebabkan-brain-rot-dan-kelelahan-mental/

Griffin, E. A., Ledbetter, A., & Sparks, G. G. (2019). A First Look At Communication Theory (Tenth Edition). Mcgraw-Hill Education. We Are Social (2025).

We Are Social. https://wearesocial.com/id/blog/2025/02/digital-2025/
Tulisan lainnya
Social Media
kontak yeTerangkat
yuhuuuterangkat@gmail.com
-
yeTerangkat, tempat ide ketemu hati nurani dan ditulis!