Salah satu cerita di balik Televisi (TV)

Salah satu cerita di balik Televisi (TV)

Salah satu cerita di balik Televisi (TV)
Ilustrasi Video Killed The Radio Star (Gemini)
Dibaca normal sekitar 10 menit
oleh Darwadi


Bagi pembaca kelahiran 70an atau 80an mungkin tidak asing dengan lirik ini

“I heard you on the wireless back in '52
Lying awake, intently tuning in on you
If I was young, it didn't stop you coming through
They took the credit for your second symphony
Rewritten by machine on new technology
And now I understand the problems you could see
I met your children
What did you tell them?
Video killed the radio star” – Video Killed the radio star, The Buggles, 1979

Berangkat dari lirik lagu berjudul Video Killed the Radio Star, lagu yang dirilis oleh The Buggles pada tahun 1979 (Wikipedia). Pada lirik lagu tersebut diceritakan tentang pengalaman mendengarkan radio pada tahun 50an, dan perlahan berubah karena technology.

Era radio terutama di Amerika sempat dihebohkan dengan program radio War of The Worlds oleh Orson Welles dan rekan-rekannya dari Mercury Theatre pada tahun 1938 (bbc.com), namun seiring berjalannya waktu, era televisi perlahan menggantikan kepamoran radio, seperti yang tertulis pada lirik The Buggles.

The Rise of TV era

Ilustrasi The Rise of TV era (Gemini)
Ilustrasi The Rise of TV era (Gemini)
Era kebangkitan televisi di Amerika dimulai pada tahun 1950an (ebsco.com) dan perlahan fenomena dari kebangkitan televisipun mulai terlihat dan berdampak pada kehidupan sosial hingga psikologi manusia pada saat itu, hingga pada tahun 1960an Goerge Gerbner mulai meneliti tentang dampak yang terjadi dari paparan televisi (ebsco.com) dan teori yang lahir dari penilitian tersebut bernama Cultivation Theory.

Penelitian Cultivation Theory muncul atas dasar banyaknya tayangan kekerasan pada televisi saat itu hingga muncul dugaan adanya hubungan antara paparan kekerasan pada televisi dengan perilaku agresif dan kekerasan di masyarakat.

Sorotan pertama pada Cultivation Theory di tahun 1960an terletak pada bagaimana media khususnya TV mendominasi the environment of symbol yang pada saat itu menceritakan beberapa kisah atau sebuah kisah hampir sepanjang waktu dan kekerasan adalah salah satu hal utama dalam dunia pertelevisian saat itu, dan Gerbner berpendapat bahwa kekerasan adalah cara dramatis yang paling sederhana dan termurah untuk menunjukan siapa pemenang dalam permainan kehidupan dan aturan mainnya.

The Environment of Symbol

Ilustrasi The Environment of Symbol (Gemini)
Ilustrasi The Environment of Symbol (Gemini)
Menarik apa yang dinyatakan Gerbner bahwa TV merupakan the environment of symbol, dan melalui pendekatan Lacan, TV sebagai the environment of symbol, menjadikan TV ranah simbol, dimana bahasa, simbol dan makna menjadi pembentuk kesadaran manusia yang baru. TV membuat realita baru dengan membangun narasi yang terus menerus. Dengan menguasai struktur simbol masyarakat, TV menentukan apa yang dianggap nyata, bermakna, normal bahkan benar. Melalui kerangka Lacan, manusia hidup bukan langsung dalam realitas namun dalam representasi, simbol, citra, atau narasi yang dibentuk dalam konteks ini, oleh media.

Namun kini, media sosial menjadi salah satu ranah simbol selanjutnya, saat dulu TV mengatur narasi dengan satu arah, kini media sosial telah menciptakan arus simbolik yang lebih cepat, ringkas dan sangat kuat. Kini media sosial juga berfungsi sebagai The Big Other, istilah Lacan untuk menyebut otoritas simbolik yang mengatur makna dan posisi Subjek dalam masyarakat. Dengan berfungsi sebagai The Big Other, media sosial mengatur struktur hasrat dan identitas diri, atau malah mengisi hasrat diri manusia.

Karena menurut Lacan, manusia selalu muncul kekurangan (lack). Jika dulu TV membentuk realita melalui kekerasan yang menjadi pendekatan yang paling mudah dan murah, kini realita yang terbentuk di masyarakat oleh sosial media jauh lebih kompleks, seperti halnya tren olahraga lari atau padel menjadi pembentuk kesadaran baru di masyarakat, karena olahraga tersebut menjadi simbol pengakuan manusia atau hal-hal lain yang terkait itu yang dianggap The Big Other bagi manusia saat ini. Hal yang menjadi objek hasrat kolektif dan menjadi representasi dalam penentuan siapa pemenang, siapa yang kalah dan siapa yang mengikuti aturan.

Light Viewer vs. Heavy Viewer

Ilustrasi Light Viewer vs. Heavy Viewer (Gemini)
Ilustrasi Light Viewer vs. Heavy Viewer (Gemini)
Pada buku Griffin, saat efek TV terjadi di lingkungan yang tidak aman, mengakibatkan orang tidak berani keluar rumah, dan memilih untuk menghabiskan waktu dirumah dengan menonton TV yang notabene berisi kekerasan. Karena terbentuk konteks bahwa kekerasan merupakan hal yang sering dipaparkan dan menjadi realita baru bahwa kekerasan merupakan hal yang biasa saja bahkan normal, namun hal tersebut menjadi berbeda bagi orang-orang yang tidak punya cukup tenaga untuk melawan realita dan konstruksi realitas yang dibentuk oleh media.

Orang-orang yang mengalami realita ini pada saat itu kebanyakan orang-orang dari kaum minoritas Heavy Viewer (hispanik, orang kulit hitam, perempuan, anak-anak dll) karena mereka biasanya menjadi simbol korban pada TV muskipun jarang terlihat dilayar kaca, akan tetapi hal ini terjadi terbalik bagi kaum kulit putih Light Viewer, dan kala itu di TV digambarkan sebagai sosok yang selalu pada posisi benar, intelektual tinggi, kaya dll. dan lingkuangan yang tercipta saat itu adalah lingkungan yang aman, dan mereka lebih memilih untuk keluar rumah dan tidak terlalu mengkonsumsi TV, pada hal ini Gerbner mengklasifikasikan Light Viewer dan Heavy Viewer.

Heavy Viewer merupakan orang-orang atau konsumen media atau TV yang menganggap dunia nyata sama dengan dunia televisi, biasanya mereka mengkonsumsi media atau TV lebih dari 4 jam sehari dan Light Viewer sebaliknya, orang-orang yang lebih sedikit mengkonsumsi media atau tv dan tidak terlalu terpengaruh oleh gambaran dari media atau TV.

Dari gambaran tersebut, efek samping yang terjadi saat itu berevolusi menjadi realita baru saat ini, bagi kaum minoritas / Heavy Viewer, Lacan memandang hal tersebut sebagai paranoia, saat dunia terasa penuh ancaman, penuh makna tersembunyi dan pengawasan. Selanjutnya, efek yang diterima dari gambaran kaum kulit putih di TV saat itu adalah adanya pengakuan atas superioritas di masyarakat.

The Side Effect

Ilustrasi The Side Effect (Gemini)
Ilustrasi The Side Effect (Gemini)
Selain itu, salah satu contoh yang marak terjadi yaitu bullying baik verbal maupun non-verbal baik pada anak-anak maupun orang dewasa, hal ini merupakan salah satu manifestasi dari efek TV terdahulu dan tertanam dan ditambah dengan kompleksitas manusia dan juga pengaruh dari eksternal(sosial media, film, lingkungan, keluarga, teman, game dll) yang ditanamkan oleh Subjek. Akhirnya bullying atau kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Berangkat dari game Heavyweight Champ, sebuah game tinju yang pertama kali di rilis pada tahun 1976 oleh Sega (Wikipedia), lalu berkembang hingga banyaknya game-game serupa seperi Tekken, Mortal Kombat, Counter Strike, Call of Duty hingga God of War semua memiliki kesamaan yang sama, yaitu kekerasan, dan game saat ini menjadi salah satu faktor normalisasi kekerasan pada masyarakat kotemporer dan jauh lebih berdampak pada anak-anak dan orang dewasa. Dilansir dari timesindonesia.co.id, “Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah untuk memblokir sejumlah game online yang mengandung unsur kekerasan karena dinilai berpotensi membahayakan perkembangan anak.”

Hal ini sejalan dengan apa yang dulu Gerbner ungkapkan saat menerima kritik tentang theorynya, beliau menjawab hal itu dengan Mainstreaming yang berarti TV mengaburkan realita yang ada, kekerasan atau bullying dianggap suatu yang benar (Blurring), para penonton atau konsumen mediapun menerima kekerasan sebagai sesuatu yang normal (Blending), lalu akhirnya (Bending), saat diterima atau didukungnya kekerasan ditengah masyarakat.

Hal ini senada dengan kekerasan yang muncul pada film-film seperti pada tayangan Marvel, DC dan lain-lain pada saat ini kekerasan bukan lagi hal yang aneh, seperti yang diungkapkan Gerbner, dari karakter baik maupun jahat melakukan hal yang sama yaitu kekerasan dan hal ini sudah menjadi realita yang terbentuk, melawan kekerasan dengan kekerasan. Karena pada konteks saat ini, kekerasan menjadi salah satu bentuk pencarian makna, identitas, menolak kelemahan dan penegasan diri atau malah eksistensi yang tidak terpenuhi.

Referensi
Griffin, 10th ed A First Look at Communication Theory, McGraw-Hill Education (2018)
BBC Audio | Witness History | Orson Welles broadcasts The War of the Worlds
Golden Age of Television | Research Starters | EBSCO Research
Cultivation theory | Research Starters | EBSCO Research
Heavyweight Champ - Wikipedia
Lindungi Anak, KPAI Desak Pemerintah Blokir Game Online Bermuatan Kekerasan - TIMES Indonesia



Tulisan lainnya
Social Media
kontak yeTerangkat
yuhuuuterangkat@gmail.com
-
yeTerangkat, tempat ide ketemu hati nurani dan ditulis!