Kenapa kita susah untuk memilih?

Kenapa kita susah untuk memilih?

Kenapa kita susah untuk memilih?
Ilustrasi FOBO (Gemini)
Dibaca normal sekitar 10 menit
oleh Darwadi

Sebuah artikel dari HuffPost yang berjudul "This Is What 'FOBO' Or Fear Of Better Options Is, And Why It's Ruining Your Life" membahas fenomena yang kian intensif di era informasi kontemporer yaitu FOBO atau Fear of Better Options (Ketakutan Akan Opsi yang Lebih Baik). Istilah ini diperkenalkan oleh Patrick McGinnis orang yang sama memperkenalkan FOMO (Fear of Missing Out) namun untuk FOBO, McGinnis mendeskripsikan kecenderungan individu untuk menunda pengambilan keputusan dan komitmen, didorong oleh kecemasan yang berlebihan terhadap kemungkinan munculnya alternatif yang lebih superior di masa mendatang.

Berbeda dengan FOMO, yang berakar pada perbandingan sosial dan ketakutan tertinggal dari pengalaman kolektif, FOBO merupakan disfungsi yang timbul dari kelimpahan pilihan. Mekanisme internal ini menyebabkan individu terperangkap dalam proses penimbangan opsi secara berkelanjutan, mulai dari pilihan karier, hubungan interpersonal, hingga keputusan konsumsi sehari-hari yang secara substansial menghambat tindakan dan komitmen definitif.

Tinjauan Sisi Psikologis antara Paradoks Pilihan dan Beban Kognitif

Ilustrasi FOBO (Gemini)
Ilustrasi FOBO (Gemini)
Dari perspektif psikologi, FOBO merupakan beban kognitif dan emosional yang (mungkin) ekstrem dalam proses pengambilan keputusan. FOBO juga berkorelasi dengan ketidakbahagiaan dapat dijelaskan secara komprehensif melalui teori The Paradox of Choice yang dikembangkan oleh psikolog Barry Schwartz.

Asumsi dasar bahwa kelimpahan pilihan akan meningkatkan kebebasan dan kesejahteraan individu ternyata kontradiktif. Schwartz (2004) menunjukkan bahwa peningkatan jumlah pilihan justru menghasilkan kelumpuhan (paralysis) keputusan. Dalam konteks FOBO, subjek mengalami kelumpuhan bukan karena kurangnya alternatif, melainkan karena volume variabel yang harus dianalisis melebihi kapasitas pemrosesan kognitif.

Akses tak terbatas terhadap data digital seperti ulasan produk, profil profesional, atau data komparatif memicu kelelahan keputusan atau decision fatigue. Kecemasan fundamental FOBO berpusat pada opportunity cost atau biaya peluang dimana secara otomatis setiap komitmen terhadap opsi X secara inheren menghapuskan potensi manfaat dari opsi Y dan Z. Rasa sakit psikologis akibat potensi kehilangan ini adalah pendorong utama perilaku menunda-nunda dan menghindari komitmen.

Fenomena pencarian "kesempurnaan" oleh penderita FOBO dapat diklasifikasikan berdasarkan gaya pengambilan keputusan yang dikategorikan oleh Schwartz sebagai berikut
  1. Maximizers (Pe-maximalisasi) yaitu individu yang menuntut hasil yang optimal, yang mengharuskan eksplorasi menyeluruh terhadap setiap opsi potensial. Tipe ini merupakan arketipe dari penderita FOBO.
  2. Satisficers (Pemuas) yaitu individu yang menetapkan kriteria kelayakan dan memilih opsi pertama yang memenuhi standar tersebut, kemudian menghentikan pencarian.
Orang dengan FOBO akut terus dihantui oleh ketidakpastian mengenai apakah pilihan yang diambil adalah yang terbaik secara absolut. Secara psikologis, korelasi antara mentalitas Maximizer dan tingkat kesejahteraan subjektif cenderung negatif, membuat mereka lebih rentan terhadap penyesalan, kecemasan, dan depresi, karena standar yang ditetapkan sering kali tidak realistis dan didasarkan pada fantasi kesempurnaan di masa depan.

Patrick McGinnis turut menyoroti aspek ego sentris dalam FOBO. Penundaan keputusan yang berkepanjangan untuk menunggu opsi superior menyiratkan adanya persepsi diri bahwa individu tersebut berhak atas yang terbaik secara mutlak, terkadang dengan mengorbankan waktu atau kebutuhan pihak lain.

Hal ini juga berkaitan dengan Analysis Paralysis atau Kelumpuhan Analisis, di mana analisis yang berlebihan terhadap suatu situasi menyebabkan inaksi. Dalam psikologi kognitif, kondisi ini terjadi ketika penghindaran risiko membuat kesalahan atau regret aversion melampaui motivasi untuk bertindak. Penderita FOBO lebih terfokus pada pencegahan penyesalan daripada pada inisiasi dan apresiasi terhadap keputusan yang sudah dibuat.

Tinjauan Sisi Ilmu Komunikasi: Disrupsi Media dan Kelimpahan Informasi

Ilustrasi FOBO (Gemini)
Ilustrasi FOBO (Gemini)

Sementara psikologi berfokus pada mekanisme internal, Ilmu Komunikasi menawarkan penjelasan mengenai bagaimana lingkungan media digital memperparah FOBO dan memengaruhi dinamika interpersonal.

Salah satu penyebab FOBO adalah sifat asinkronus (non-real-time) dari komunikasi digital kontemporer. Teori Computer-Mediated Communication (CMC) menjelaskan bahwa komunikasi melalui email atau pesan teks menyediakan jeda waktu bagi penerima untuk merespons.

Jeda ini sering dimanfaatkan oleh penderita FOBO untuk menangguhkan keputusan, memungkinkan mereka untuk "menggantung" interaksi sambil melakukan eksplorasi opsi eksternal.

Sebagai contoh, undangan sosial yang diterima melalui platform digital dapat dijawab dengan ambiguitas atau penundaan "Akan saya konfirmasi kembali", berbeda dengan komunikasi tatap muka yang menuntut respons segera.

Fitur digital seperti notifikasi dan status "online" semakin memperburuk tekanan komunikasi, di mana ketiadaan respons (silence) diinterpretasikan sebagai pesan penolakan atau ketidakpastian oleh pihak lain.

Dari sudut pandang teori informasi, FOBO adalah konsekuensi langsung dari Information Overload. Prediksi Alvin Toffler dalam Future Shock mengenai disfungsi yang disebabkan oleh kelebihan data kini terwujud. Akses tanpa batas ke data komparatif, ulasan, dan narasi personal di internet menciptakan noise atau gangguan dalam proses pengambilan keputusan.

Bukannya memfasilitasi keputusan yang rasional, volume informasi yang masif justru mengaburkan penilaian nilai atau value judgment. Penderita FOBO gagal menyaring informasi yang relevan menjadi sebuah keputusan komunikasi yang efektif, sebab mereka terperosok dalam rasion signal-to-noise yang rendah, di mana opsi yang terlalu banyak menghalangi aksi.

Leon Festinger's Social Comparison Theory (1954) menyatakan bahwa individu mengevaluasi diri mereka melalui perbandingan dengan orang lain. Platform media sosial secara eksponensial memperkuat teori ini, mengubahnya menjadi faktor pemicu utama FOBO.

Media sosial berfungsi sebagai "etalase sorotan" atau highlight reels kehidupan. Ketika individu mempertimbangkan untuk berkomitmen pada sebuah opsi, perbandingan visual instan di platform seperti LinkedIn atau Instagram terhadap pilihan yang diambil oleh orang lain dapat secara drastis mengurangi nilai opsi yang dimiliki. Ilusi visual ini secara efektif memvalidasi kecurigaan penderita FOBO bahwa opsi yang lebih baik selalu eksis, sehingga mendorong mereka untuk terus menangguhkan komitmen.

Dalam kerangka Uncertainty Reduction Theory dari Berger dan Calabrese, tujuan komunikasi awal adalah mengurangi ketidakpastian. Namun, perilaku FOBO justru memelihara dan memproduksi ketidakpastian dalam hubungan.

Pola komunikasi yang sering dilakukan oleh penderita FOBO, seperti ghosting atau atau breadcrumbing atau pemberian harapan secara sporadis, menjaga relasi dalam keadaan ambigu tanpa komitmen. Dalam jangka panjang, pola ini mengikis kepercayaan, menyebabkan pihak yang lain merasa terdevaluasi atau diperlakukan sebagai rencana cadangan. Komunikasi yang efektif membutuhkan kepastian dan timbal balik yang merupakan kebalikan dari perilaku FOBO.

Berdasarkan telaahan interdisipliner, FOBO dapat dipahami sebagai siklus tidak sehat yang kompleks seperti
  1. Ekosistem Teknologi (Komunikasi) menyediakan platform kelimpahan opsi dan memungkinkan penangguhan respons (asinkronus).
  2. Proses Kognitif (Psikologi) merespons kelimpahan ini melalui Paradox of Choice, yang memicu adopsi mentalitas Maximizer.
  3. Kondisi Afektif (Psikologi) memunculkan kecemasan kronis dan penghindaran penyesalan (regret aversion).
  4. Perilaku Komunikatif yang dihasilkan adalah penundaan, ambiguitas, dan penangguhan komitmen terhadap pihak lain.
  5. Perkuatan (Komunikasi): Siklus ini diperkuat secara berkelanjutan oleh Social Comparison di media sosial, yang secara visual menyajikan bukti bahwa "opsi yang lebih baik" selalu mungkin ada.

Tulisan di HuffPost bahwa FOBO berdampak destruktif terhadap kehidupan individu terbukti valid. Secara psikologis, FOBO menggerogoti kesejahteraan mental melalui kecemasan dan ketidakpuasan permanen. Secara komunikatif, perilaku ini menyebabkan isolasi dan disfungsionalitas hubungan karena erosi kepercayaan yang diakibatkannya.

Merubah dan mengalihkan orientasi pengambilan keputusan dari Maximizer ke Satisficer memerlukan penerimaan filosofis terhadap konsep "cukup" sebagai standar kepuasan. Pengakuan bahwa kesempurnaan keputusan adalah ilusi adalah langkah fundamental menuju kematangan emosional.

Selanjutnya, menerapkan "diet informasi" yang ketat dan mempraktikkan etika komunikasi yang tegas dengan membatasi durasi eksplorasi opsi dan memaksakan diri untuk memberikan respons komunikasi yang jelas dan definitif seperti "Ya" atau "Tidak". Penekananpun harus diberikan pada penghargaan terhadap komitmen aktual daripada potensi maya.

Pada akhirnya, kepuasan hidup tidak terletak pada opsi yang dipertahankan sebagai cadangan, melainkan pada pilihan yang dieksekusi dengan komitmen dan ketegasan penuh, sederhanannya, bersyukurrrlahhh, heheheh


Referensi
huffpost.com, (2026). https://www.huffpost.com/entry/fobo-explained-goog_l_6942f376e4b0fd459eef91dd?
Schwartz, B. (2004). The Paradox of Choice: Why More Is Less. New York: Ecco.
Simon, H. A. (1956). Rational choice and the structure of the environment. Psychological Review.
Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations.
Walther, J. B. (1996). Computer-Mediated Communication: Impersonal, Interpersonal, and Hyperpersonal Interaction. Communication Research.
Toffler, A. (1970). Future Shock. New York: Random House.
Tulisan lainnya
Social Media
kontak yeTerangkat
yuhuuuterangkat@gmail.com
-
yeTerangkat, tempat ide ketemu hati nurani dan ditulis!