Jalan Pintas Mental

Jalan Pintas Mental

Jalan Pintas Mental
Ilustrasi Jalan Pintas Mental (Gemini)
Dibaca normal sekitar 15 menit
oleh Darwadi


Dalam era informasi yang melimpah ruah saat ini, kemampuan manusia untuk memproses data dan mengambil keputusan menjadi subjek yang penting. Artikel Huffington Post yang berjudul "Psychology, Mental Shortcuts & Decision Making" mengangkat isu fundamental mengenai bagaimana otak manusia bekerja menggunakan "jalan pintas" atau heuristik untuk menavigasi kompleksitas kehidupan sehari-hari. Tulisan tersebut menyoroti ketegangan abadi antara efisiensi kognitif dan akurasi penilaian.

Melalui pendekatan multidisiplin, tulisan ini akan membedah fenomena heuristik tidak hanya sebagai mekanisme internal individu pada perspektif Psikologi Kognitif, tetapi juga sebagai celah yang dimanfaatkan dalam interaksi sosial dan media massa pada perspektif Ilmu Komunikasi.

Gagasan utama tulisan ini adalah bahwa meskipun jalan pintas mental sebenarnya berguna untuk bertahan hidup, di dunia modern yang penuh algoritma dan pengaruh media saat ini, kebiasaan itu justru menjadi kelemahan. Akibatnya, kita sering salah menafsirkan informasi dan menjadi lebih mudah dimanipulasi.

Disini kita coba menjelaskan dasar-dasar tentang heuristik, yaitu cara cepat yang dipakai otak untuk mengambil keputusan dan membuat penilaian. Kita seringkali tidak punya waktu atau energi otak yang cukup untuk memikirkan semua detail. Jadi, otak memilih untuk memakai semacam 'aturan cepat' atau (rules of thumb) dan poin-poin kunci yang diangkat meliputi:

  1. Fungsi Adaptif (Sisi Baik): Jalan pintas mental membuat kita bisa bertindak cepat di dunia yang rumit tanpa jadi bingung atau macet karena terlalu banyak mikir.
  2. Risiko Salah (Sisi Buruk): Cara cepat ini berisiko membuat kita salah, yaitu munculnya bias kognitif. Artinya, penilaian kita jadi tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya atau data statistik yang akurat.
  3. Jenis Heuristik: Jenis umum seperti Availability Heuristic atau menilai berdasarkan apa yang paling gampang diingat dan Representativeness Heuristic atau menilai berdasarkan seberapa mirip sesuatu dengan stereotip di kepala kita.

Singkatnya, ini meruapakan pengantar sederhana tentang mengapa logika atau akal sehat kita seringkali harus mengalah pada kebutuhan tubuh untuk menghemat energi berpikir.

Mekanisme "Otak yang Pelit"

Ilustrasi Otak yang Pelit (Gemini)
Ilustrasi Otak yang Pelit (Gemini)
Menanggapi penjelasan artikel tentang efisiensi otak, ilmu psikologi kognitif memberikan alasan yang lebih dalam tentang mengapa kita menggunakan jalan pintas. Dalam buku-buku psikologi, manusia sering disebut sebagai Cognitive Misers atau Si Pelit Kognitif, istilah dari Fiske & Taylor, 1991, yaitu makhluk yang memang ingin menghemat energi mental.

Teori Proses Ganda (Dual Process Theory) dan Dominasi Sistem 1
Artikel tersebut menyinggung Dual Process Theory (Teori Proses Ganda) yang dibuat oleh Daniel Kahneman. Menurut teori ini, masalah utama kita saat mengambil keputusan bukan karena ada jalan pintas mental, tetapi karena kita gagal beralih dari satu sistem berpikir ke sistem yang lain.

  1. Sistem 1 (Otomatis/Cepat): Ini adalah cara berpikir utama kita (mode default). Evolusi membentuk Sistem 1 agar kita bisa bertahan hidup dengan reaksi cepat misalnya, lari saat melihat bayangan menyerupai predator.
  2. Sistem 2 (Analitis/Lambat): Sisi lemah yang jarang dibahas dalam artikel adalah betapa "malasnya" Sistem 2 ini. Sistem ini butuh banyak energi dan perhatian penuh. Bias terjadi karena Sistem 2 seringnya hanya dipakai untuk mencari alasan atas keputusan impulsif yang sudah diambil oleh Sistem 1, bukan untuk memperbaikinya.

Bias Konfirmasi dan Ganjalan Mental (Disonansi Kognitif)
Melengkapi bahasan tentang bias, psikologi menyoroti Confirmation Bias (Bias Pembenaran Diri) sebagai jenis jalan pintas yang paling sulit hilang. Otak kita cenderung hanya mencari informasi yang mendukung apa yang sudah kita yakini. Hal ini dilakukan untuk menghindari Disonansi Kognitif (perasaan tidak nyaman di kepala karena ada dua ide yang saling bertentangan). Inilah yang membuat kita tidak hanya salah hitung, tapi juga jadi keras kepala terhadap fakta baru.

Perspektif Ilmu Komunikasi: Eksploitasi Jalan Pintas

Ilustrasi Eksploitas Jalan Pintas (Gemini)
Ilustrasi Eksploitas Jalan Pintas (Gemini)
Jika psikologi menjelaskan cara kerja otak kita di dalam, ilmu komunikasi melihat ke luar, yaitu bagaimana jalan pintas mental ini bertemu dengan iklan, berita, dan ajakan orang lain. Selain itu, pada era saat ini, dunia informasi saat ini sengaja dibuat untuk memancing jalan pintas mental kita.

Model Daya Pikat Pesan (ELM)
Dalam ilmu komunikasi, model ini bilang kita mencerna pesan dengan dua cara yaitu Jalur Utama (pakai logika dan argumen) dan Jalur Pinggir (pakai petunjuk yang remeh-temeh).

Jalan pintas mental itu dipakai di Jalur Pinggir seperti Politisi dan pengiklan tahu kita jarang mau berpikir keras (Jalur Utama). Jadi, pesan mereka dirancang untuk langsung memicu jalan pintas seperti
  1. Scarcity ("Stok terbatas!") memicu rasa takut kehilangan.
  2. Social Proof ("Ribuan orang telah bergabung") memicu insting konformitas.
  3. Authority ("Kata pakar...") memicu kepatuhan otomatis.
Media Memilih Sudut Pandang Berita (Framing) dan Menentukan Topik Penting (Agenda Setting)
Media tidak menyajikan semua kejadian secara jujur dan lengkap. Mereka memilih sudut pandang tertentu untuk menyajikannya (Framing).

Analisis Heuristik Ketersediaan dalam Media yaitu kita cenderung menilai sesuatu penting atau berbahaya atau sedang menjadi perbincangan publik jika berita tentangnya sering muncul (heuristik ketersediaan). Hal ini dipengaruhi oleh Agenda Setting (Penentuan Topik). Sebagai contoh, Jika media terus-terusan membahas kecelakaan pesawat dan media menentukan ini penting, maka kita langsung teringat kecelakaan itu. Akibatnya, kita menganggap naik pesawat sangat berisiko, padahal datanya bilang itu aman. Jadi, cara cepat kita berpikir jadi salah karena kita terlalu sering melihat topik yang sama di media.

Algoritma dan Gelembung Penyaring (Filter Bubble)
Di media sosial, mesin (algoritma) sengaja memicu kita untuk bias. Mesin itu tahu kita suka emosi dan/atau hal heboh (memancing Otak Cepat/Sistem 1). Ini membuat kita terjebak di Gelembung Penyaring (Filter Bubble). Di sana, kita cuma lihat yang kita suka saja, jadi kita malas mikir pakai Otak Lambat/Sistem 2.

Kalau kita gabungkan Psikologi dan Komunikasi, kita sadar Masalahnya bukan cuma "Otak kita maunya cepat" (sisi kita), tapi juga "Lingkungan kita sengaja memanfaatkan keinginan cepat itu" (sisi luar).

Heuristik Representativitas dan Stereotip Sosial
Heuristik Representasi adalah menilai orang/hal berdasarkan kemiripan dengan contoh yang sudah ada (stereotip). Ini jadi sumber masalah besar di masyarakat. Media sering pakai cara cepat (seperti gambar) untuk menunjukkan siapa yang baik atau jahat. Karena gampang diproses otak, kita terima itu sebagai fakta. Akibatnya, stereotip jadi makin kuat dan merusak persatuan sosial.

Sebagai contoh, Anda diminta menebak pekerjaan seseorang yang memakai kacamata, berpakaian rapi, dan terlihat serius. Kebanyakan orang akan langsung menebak dia adalah Dosen atau Akuntan (karena ciri-ciri itu "mewakili" stereotip profesi tersebut). Padahal, orang itu mungkin saja seorang Seniman atau Musisi yang kebetulan sedang berpakaian rapi. Otak kita memilih jawaban yang paling mudah mewakili gambaran di kepala, bukan jawaban yang paling mungkin benar.

Anchoring dalam Negosiasi dan Opini Publik
Bias Jangkar (Anchoring Bias) itu penting banget di politik atau saat nego. Angka atau cerita pertama yang kita dengar akan jadi "jangkar" di kepala kita.

Sebagai contoh lagi, Bayangkan Anda melihat diskon di mal. Harga awal barang tertulis besar Rp500.000 (Ini adalah Jangkar). Harga jualnya sekarang Rp250.000. Padahal, Anda tidak tahu barang itu sebenarnya hanya bernilai Rp200.000. Karena Anda sudah terlanjur melihat angka Rp500.000, Anda merasa harga Rp250.000 itu sudah sangat murah, padahal diskonnya tidak sebesar itu. Jangkar awal yang tinggi membuat Anda menilai bahwa Rp250.000 adalah penawaran yang bagus.

Walaupun ada data baru yang benar, pikiran kita susah banget bergeser dari jangkar awal itu. Ini artinya, saat ada masalah besar, respons yang cepat (meski kurang akurat) sering lebih kuat membentuk opini publik daripada kebenaran yang datang terlambat. Ini memang ironis, tapi sering terjadi.

Artikel HuffPost memberikan diagnosis yang akurat mengenai kondisi kognitif manusia dimana kita adalah makhluk yang efisien namun rentan error. Namun, analisis tersebut perlu diperluas untuk mengakui bahwa di dunia modern, "error" ini bukan sekadar kecelakaan acak, melainkan hasil dari interaksi antara otak purba kita dengan teknologi komunikasi canggih.

Sebagai salah satu jalan keluar agar tidak terjebak pada ke"error"an itu, beberapa hal yang perlu kita pahami

  1. Literasi Media Kritis, dengan solusi untuk bias heuristik bukan hanya "berpikir lebih keras" karena itu melelahkan, tetapi memahami bagaimana media mencoba memicu jalan pintas kita. Pendidikan literasi media harus mengajarkan audiens untuk mengenali pemicu emosional dalam berita atau iklan.
  2. Desain Komunikasi Etis, bagi praktisi komunikasi, pemahaman ini menuntut tanggung jawab etis. Menggunakan heuristik untuk menyederhanakan pesan yang kompleks itu baik, tetapi menggunakannya untuk menipu atau memanipulasi ketakutan publik adalah pelanggaran etika yang serius.
  3. Jeda Kognitif, secara individu, strategi terbaik adalah menciptakan "jeda buatan". Sebelum membagikan informasi atau membuat keputusan pembelian besar, kita perlu secara sadar mengaktifkan Sistem 2, mempertanyakan motif sumber informasi, dan mencari bukti pembanding.

Jadi, jalan pintas mental adalah pedang bermata dua. Ia menyelamatkan nenek moyang kita dari predator di sabana, tetapi bisa menyesatkan kita di hutan belantara informasi digital.

Referensi
huffpost.com, 2017, https://www.huffpost.com/entry/psychology-mental-shortcuts-decision-making_n_58e26bfee4b0c777f7892021
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow.
Petty, R. E., & Cacioppo, J. T. (1986). The Elaboration Likelihood Model of Persuasion.
Fiske, S. T., & Taylor, S. E. (1991). Social Cognition.
Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases.
Tulisan lainnya
Social Media
kontak yeTerangkat
yuhuuuterangkat@gmail.com
-
yeTerangkat
tempat ide ketemu hati nurani dan ditulis!
-
yeTerangkat, tempat ide ketemu hati nurani dan ditulis!