Apa itu Berkelanjutan?

Apa itu Berkelanjutan?

Apa itu Berkelanjutan?
Ilustrasi Keberlanjutan Produk Indonesia (Gemini)
Dibaca normal sekitar 6 menit
oleh Darwadi, Cosmas T. Susantho

Jika melihat dari KBBI, Berkelanjutan berarti berlangsung terus-menerus; berkesinambungan, dan karena menurut KBBI kata tersebut termasuk kata kerja jadi apapun subjek maupun objeknya, kalimat yang terbentuk seharusnya menggambarkan makna sesuatu yang berlangsung terus-menerus. Contoh; Program desa (S) berkelanjutan (P) memberdayakan warga (O) sejak tahun lalu(K) yang berarti sebuah program yang sudah dijalankan terus menerus sejak tahun lalu.

Kata berkelanjutan atau sustainibility pada tulisan ini menjadi kata kunci karena melalui kata berkelanjutan bisa menggambarkan bagaimana sebuah peradaban muncul dan eksis hingga sekarang, dan Indonesia memiliki modal besar untuk menjawab tantangan global ini melalui apa yang kita sebut sebagai "Sustainable Local Wisdom" atau kearifan lokal yang berkelanjutan.

Landasan Ekonomi Hijau


Ilustrasi landasan ekonomi hijau - Gemini
Ilustrasi landasan ekonomi hijau - Gemini
Ekonomi hijau bukan hanya tentang menanam pohon atau mengurangi emisi karbon. Dalam konteks desain produk, ekonomi hijau diterjemahkan melalui konsep Triple Bottom Line: People, Profit, dan Planet. Ketiga pilar ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling mengikat dan memberikan pengaruh timbal balik.

  1. Planet (Lingkungan): Menitikberatkan pada minimalisasi jejak karbon, penggunaan material terbarukan, dan sistem produksi yang tidak merusak ekosistem.
  2. People (Sosial): Memastikan bahwa proses produksi memberikan dampak positif bagi komunitas lokal, menghargai hak pekerja, dan melestarikan identitas budaya.
  3. Profit (Ekonomi): Menciptakan nilai tambah ekonomi yang adil, memastikan keberlangsungan usaha, namun tanpa mengorbankan dua pilar lainnya.

Desain produk yang berkelanjutan senantiasa berupaya menyeimbangkan ketiga hal ini. Produk bukan lagi sekadar komoditas untuk dijual cepat, melainkan sebuah alat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Kearifan Lokal Indonesia

Ilustrasi kearifan lokal indonesia - Gemini
Ilustrasi kearifan lokal indonesia - Gemini
Nenek moyang kita telah mempraktikkan ekonomi sirkular sebelum istilah itu populer. Penggunaan material alami yang dapat terurai kembali ke tanah (biodegradable) adalah inti dari produk kerajinan Nusantara. Berdasarkan data warisan budaya, kita melihat penggunaan material yang sangat cerdas:

Bambu (Angklung): Bambu dikenal sebagai material "ajaib" masa depan. Pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya menyerap karbon menjadikannya alternatif kayu yang sangat ramah lingkungan.

Kulit Kayu (Noken): Noken dari Papua adalah simbol keberlanjutan. Tas ini dibuat dari serat kulit kayu yang diambil tanpa mematikan pohonnya, menunjukkan pemahaman mendalam masyarakat Papua tentang konservasi.

Serat Alami (Batik dan Tenun): Penggunaan kapas, sutra, dan pewarna alami (seperti indigo atau soga) menunjukkan bahwa estetika tinggi bisa dicapai tanpa bahan kimia berbahaya.

Logam dan Batu (Gamelan, Keris, Candi): Material yang memiliki daya tahan sangat tinggi (longevity), yang berarti mengurangi frekuensi pergantian produk dan limbah.

Pemetaan Produk Budaya dan Identitas Regional


Ilustrasi pemetaan produk indonesia - Gemini
Ilustrasi pemetaan produk indonesia - Gemini
Melalui tinjauan di berbagai wilayah Indonesia, kita menemukan bahwa setiap daerah memiliki "tanda material" yang artistik dan simbolik. Warisan budaya ini bukan sekadar benda mati, melainkan penegasan identitas yang diwariskan untuk seluruh umat manusia.

Di wilayah Papua Pegunungan, Papua Selatan, hingga Papua Barat Daya, tiga ikon budaya selalu muncul: Noken, Tifa, dan Koteka. Ketiganya adalah contoh nyata desain produk yang fungsional namun sangat organik. Noken, sebagai tas multifungsi, tidak hanya digunakan untuk membawa hasil bumi, tetapi juga menjadi simbol rahim ibu, sebuah filosofi mendalam tentang pemberian kehidupan dan perlindungan alam.

Bergerak ke wilayah barat, kita melihat Perahu Phinisi dari Sulawesi yang berbahan kayu pilihan. Konstruksinya yang tanpa paku besi menunjukkan kehebatan teknologi lokal yang selaras dengan laut. Begitu pula dengan Wayang Kulit dan Keris di Jawa, yang menggabungkan unsur kulit, logam, dan kayu dengan teknik kriya tingkat tinggi.

Tantangan Modernitas dan Transformasi Desain

Ilustrasi Tantangan Modernitas - Gemini
Ilustrasi Tantangan Modernitas - Gemini
Meskipun kita memiliki warisan yang luar biasa, tantangan muncul ketika kearifan lokal ini berbenturan dengan industrialisasi massal. Banyak produk tradisional mulai tergerus oleh material plastik yang murah namun mencemari. Di sinilah Sustainable Product Design berperan sebagai jembatan.

Produser yang bertanggung jawab saat ini harus memutuskan: Apakah kita akan terus menggunakan plastik sekali pakai, atau beralih kembali ke serat alam dengan sentuhan teknologi modern? Desain berkelanjutan menuntut produsen untuk memikirkan akhir hayat suatu produk (end-of-life). Jika sebuah Noken rusak, ia akan kembali menjadi tanah. Jika sebuah tas plastik rusak, ia akan tetap ada di sana selama ratusan tahun.

Implementasi Ekonomi Hijau dalam Produk Lokal


Ilustrasi Ekonomi hijau - Gemini
Ilustrasi Ekonomi hijau - Gemini
Mengedepankan ekonomi hijau melalui produk lokal berarti memperkuat rantai pasok pendek. Ketika kita memproduksi Angklung di Jawa Barat menggunakan bambu lokal dan tenaga kerja lokal, kita sedang mengurangi emisi transportasi secara drastis dibandingkan mengimpor instrumen musik plastik dari luar negeri.

Inilah yang disebut sebagai efisiensi sumber daya. Produk asli Indonesia seperti Batik (UNESCO 2009) dan Gamelan (UNESCO 2014) memiliki nilai ekonomi yang tinggi di pasar global justru karena keaslian dan keberlanjutannya. Wisatawan dan kolektor internasional kini tidak hanya mencari keindahan, tetapi juga cerita di balik produk tersebut: Siapa yang membuatnya? Apakah prosesnya merusak lingkungan? Apakah pengrajinnya dibayar dengan layak?

Peran Masyarakat dan Konsumen


Ilustrasi Peran masyarakat - Gemini
Ilustrasi Peran masyarakat - Gemini
Keberlanjutan tidak akan tercapai tanpa dukungan konsumen. Masyarakat perlu menyadari bahwa setiap pembelian adalah sebuah "suara" untuk masa depan. Memilih produk kearifan lokal yang berkelanjutan berarti kita sedang berinvestasi pada pelestarian alam Indonesia.

Budaya konsumsi harus bergeser dari "pakai-buang" menjadi "apresiasi-rawat". Produk-produk seperti Candi Borobudur atau Prambanan memberikan pelajaran bahwa desain yang baik adalah desain yang mampu melintasi zaman. Meskipun kita tidak membuat produk dari batu setiap hari, filosofi longevity (daya tahan lama) harus diterapkan dalam setiap produk modern kita.


Ilustrasi masa depan yang lebih hijau - Gemini
Ilustrasi masa depan yang lebih hijau - Gemini
Program Sustainable Local Wisdom menunjukkan bahwa Indonesia tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan solusi krisis lingkungan. Jawaban itu ada pada akar budaya kita sendiri. Dengan mengintegrasikan prinsip desain produk berkelanjutan ke dalam kearifan lokal, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya dunia, tetapi juga membangun benteng pertahanan terhadap kerusakan ekologi.

Ekonomi hijau adalah ekonomi yang memuliakan manusia dan alam. Dengan menempatkan People, Profit, dan Planet dalam satu harmoni, Indonesia dapat menjadi pemimpin dalam inovasi produk berkelanjutan di kancah global. Noken, Angklung, Batik, dan ribuan produk Nusantara lainnya adalah bukti bahwa keindahan sejati adalah keindahan yang tidak merusak tempat kita tinggal. Mari kita jaga warisan ini, bukan hanya sebagai kenangan masa lalu, melainkan sebagai kompas menuju masa depan yang berkelanjutan.

Daftar Warisan Budaya Indonesia sebagai Referensi Desain Berkelanjutan:
  1. Wayang Kulit (2003): Material kulit, fokus pada narasi dan filosofi.
  2. Keris (2008): Logam dan kayu, fokus pada daya tahan dan kriya.
  3. Batik (2009): Serat alami dan pewarna nabati.
  4. Angklung (2010): Bambu, material terbarukan tercepat di dunia.
  5. Noken (2012): Serat kulit kayu, desain tas organik tanpa limbah.
  6. Perahu Phinisi (2017): Kayu, kearifan maritim berkelanjutan.
  7. Gamelan (2014): Logam dan kayu, keharmonisan bunyi dan material.
Pada konteks ini, kita sebagai bangsa Indonesia jauh lebih canggih dan jauh lebih paham apa esensi dari keberlanjutan, dan pelajaran inilah yang juga seharusnya turun kepada anak cucu kita.

Sumber
Cosmas T. Susantho

Tulisan lainnya
Social Media
kontak yeTerangkat
yuhuuuterangkat@gmail.com
-
yeTerangkat, tempat ide ketemu hati nurani dan ditulis!